Thursday, August 6, 2020

Teknik Radiografi Wrist Joint

Wrist Joint


Proyeksi AP 
  • Posisi Pasien : duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan dan atur ketinggian pasien sehingga lengan pasien nyaman diatas meja pemeriksaan.
  • Posisi obyek : atur lengan atas dan bawah lurus diatas meja
      • atur wrist ditengah kaset dengan jari tangan lurus di atas penyangga spon
      • gunakan selalu gonad shield/apron

  • CR : vertikal tegak lurus
  • FFD : 100 cm
  • CP : pada pertengahan carpalia
  • kriteria radiograf : tampak gambaran metacarpal dan carpal, tampak juga distal ulna dan radius
        • soft tissue dan trabecula tulang tampak
        • interspace carpallia terlihat jelas

Proyeksi Lateral 
  • Posisi pasien : duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan dan atur ketinggian pasien sehingga lengan pasien nyaman diatas meja pemeriksaan.
  • Posisi obyek : atur lengan bawah fleksi terhadap lengan atas dengan tepi ulnaris menempel kaset/meja.
      • atur wrist ditengah kaset dengan jari tengah lurus
      • gunakan selalu alat proteksi/apron

  • CR : vertikal tegak lurus
  • FFD : 100 cm
  • CP : pertengahan carpalia
Proyeksi PA 
  • Posisi pasien : duduk menyamping meja pemeriksaan pada tepi tangan yang akan difoto.
  • Posisi obyek : lengan bawah fleksi dengan bagian palmar manus menempel film. jika perlu letakkan spon dibawah jari untuk fiksasi.

  • CR : vertikal tegak lurus
  • CP : pada mid carpalia
  • FFD : 100 cm
  • Kriteria radiograf : tampak tulang-tulang carpalia : navicula, lunatum, triquetrum, pisiform, multangular mayus, multangular minor, capitatum dan hamatum.
        • tampak metacarpalia
        • tampak 1/3 distal os ulna dan radius
        • tampak styloid ulna
        • tampak styloid radius
        • soft tissue dan trabecula jelas
        • densitas radiograf merata

Teknik Radiografi Manus

Teknik Radiografi Manus


Indikasi Pemeriksaan :
  • Trauma/cidera : fraktur (patah tulang), fisura (robek), dislokasi (keluar dari sendi), luksasi (keluar sendi masih berhubungan), ruptur (robek).
  • Pathologis : Artheritis, osteoma, dll
  • Benda asing (corpus alienum)
  • Cacat bawaan/congenental : polidactile.
Teknik Radiografi :
Proyeksi Postero Anterior (Dorsopalmar)
  • Posisi penderita : duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan dan atur ketinggian pasien sehingga lengan pasien nyaman diatas meja pemeriksaan.
  • Posisi obyek : letakkan tangan pasien yang diperiksa diatas kaset, dengan jari tangan diatur lurus.
        • Gunakan apron untuk melindungi organ sensitive
        • Gunakan alat bantu sand bag/soft bag untuk fiksasi

  • CR : vertikal tegak lurus terhadap kaset
  • Ukuran kaset : 18x24 cm
  • FFD : 100 cm
  • CP : metacarpophalangeal joint digiti III
  • Pada saat eksposure penderita menoleh ke sisi yang tidak di foto / menjauhi arah sinar.
  • Kriteria radiograf : tampak gambaran carpal, metacarpal dan phalangs dalam posisi PA kecuali thumb (oblique), interarticulasio dari ossa manus, distal radius dan ulna.
          • MCP dan interphalangeal joint membuka
          • Soft tissue tampak, trabecula tulang tampak
Proyeksi AP Perbandingan
  • Posisi pasien : duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan dan atur ketinggian pasien sehingga lengan pasien nyaman diatas meja pemeriksaan.
  • Posisi obyek : letakkan kedua tangan diatas kaset, dnegan membentuk sudut 45 derajat (gunakan alat bantu spon)
        • atur jari-jari tangan lurus
  • Arah sinar :vertikal tegak lurus
  • FFD : 100 cm
  • CP : diantara MCP pasien
  • Kriteria radiograf : tampak ossa manus kedua tangan dalam posisi oblique
        • tampak wrist joint
        • tampak distal os. radius dan ulna
        • caput metacarpal tidak saling superposisi
        • soft tissue dan trabecula tulang jelas terlihat

Proyeksi Lateral
  • Posisi Pasien : duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan dan atur ketinggian pasien sehingga lengan pasien nyaman diatas meja pemeriksaan.
  • Posisi obyek : lengan bawah fleksi dengan ulnar aspek dekat film
      • atur jari-jari tangan lurus dan tegak lurus dengan kaset
      • atur MCP pada pertengahan kaset
      • usahakan didepan telapak tangan diberikan spon

  • CR : vertikal tegak lurus pada kaset
  • FFD : 100 cm
  • CP : MCP digit II
  • Kriteria radiograf : tampak gambaran tulang carpal, metacarpal, phalang, distal radius, dan ulna superposisi
        • tampak thumbs bebas superposisi
        • soft tissue dan trabecula tulang tampak
Proyeksi Oblique
  • Posisi pasien : duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan dan atur ketinggian pasien sehingga lengan pasien nyaman diatas meja pemeriksaan.
  • Posisi obyek : lengan bawah fleksi diatas meja pemeriksaan
      • atur jari-jari tangan lurus dengan telapak tangan membentuk seudu 45 derajat (gunakan alat bantu spon, dan sand bag)
      • atur MCP tangan di tengah kaset

  • CR : vertikal tegak lurus
  • FFD : 100 cm
  • CP : MCP digit III
  • Kriteria radiograf : tampak gambaran carpal, metacarpal, phalang dalam posisi oblique
        • tampak caput metacarpal 3-5 sedikit overlap
        • MCP dan interphalangeal membuka
        • soft tissue dan trabekula tampak

CT SCAN KEPALA

CT SCAN KEPALA


Pemeriksaan CT scan kepala merupakan pemeriksaan yang dominan disetiap Rumah Sakit / klinik.

Anatomi
Ventrikel otak adalah serangkaian ruang berongga kecil pada otak. Ada satu ventrikel lateral yang besar di setiap belahan otak. Ventrikel ketiga ada di tengah-depan, sementara ventrikel keempat terletak jauh di belakang-bawah (di dalam otak belakang). Ventrikel berisi cairan serebrospinal (CSF).

Indikasi :
  • Tumor, massa dan lesi
  • Metastase otak
  • Aneurisma
  • Infectious (Abses, Meningitis, Tuberculosis)
  • Atrophy otak
  • Vaskullar
  • Kelainan congenital
  • Hidrosefalus
  • Perdarahan Intra Cranial : Perdarahan bisa terjadi di dalam otak atau disekililing otak (Trauma dan non trauma)
  • Perdarahan diantara otak dan rongga subaraknoid disebut perdarahan subaraknoid.
  • Perdarahan diantara lapisan selaput otak (meningen) disebut perdarahan subdural.
  • Perdarahan diantara tulang tengkorak dan selaput otak disebut perdarahan epidural.
Persiapan Pasien
  • Tidak ada persiapan khusus bagi penderita
  • Instruksi-instruksi yang menyangkut posisi penderita dan prosedur pemeriksaan harus diberitahukan dengan jelas
  • Benda aksesoris seperti gigi palsu, rambut palsu, anting-anting, penjempit rambut, dan alat bantu pendengaran harus dilepas terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan karena akan menyebabkan artefak
  • Untuk kenyamanan pasien, mengingat pemeriksaan dilakukan pada ruangan ber-AC sebaiknya tubuh pasien diberi selimut.
Persiapan Alat dan Bahan :
  • Alat dan bahan yang digunakan untuk pemeriksaan CT-Scan kepala secara umum adalah pesawat CT-sacn lengkap dengan komponen pendukungnya, seperti : media pencetak gambar, alat fiksasi (head clamp, straining straps), selimut dan tabung oksigen.
Posisi Pasien :
  • Pasien harus diposisikan sedemikian sehingga merasa nyaman diatas meja scanner, sehingga mengurangi pergerakan saat scanning
  • Scout radiograf harus mampu menampakkan anatomi yang dimaksut
Posisi Axial :
Topogram : Axial, lateral topogram / scout.
Pemeriksaan : Axial
Posisi Pasien : 
  • Gunakan head holder
  • Pasien supine, head first
  • dagu sedikit dturunkan
  • Kedua tangan disamping tubuh atau diatas dada
  • Gunakan alat fiksasi dan immobilisasi (head clamp pada head holder)
  • Yakin, bahwa pasien merasa nyaman. gunakan selimut.
Posisi Coronal :
Topogram : Coronal, lateral topogram/scout
Posisi pasien :
  • Gunakan head holder
  • Pasien prone, head first, dengan leher ekstensi
  • Kedua tangan disamping tubuh
  • Gunakan alat fiksasi dan immobilisasi
  • Yakin, bahwa pasien merasa nyaman. gunakan selimut 
Hal Penting :
  • Coronal scan harus dikerjain dalam waktu sesingkat mungkin, mengingat posisioning coronal tidak terlalu nyaman bagi pasien.
  • Pada coronal scan harus hati-hati terhadap dental filling yang dapat menyebabkan artefak
Proses Scanning

Teknik
  • Range 1 mulai dari bagian bawah basis cranium sampai dengan bagian atas tulang petrosum
  • Pada range ini gunakan slice thickness yang lebih tipis
  • Range 2 lanjutan dari range 1 sampai dengan vertek, dengan slice thickness yang lebih tebal
Sequence Teknik :
  • Teknik sequence sangat membantu jika pasien tidak dapat tenang selama pemeriksaan. pertimbangannya adalah jika akan dilakukan scanning maka dapat diulang pada 1 atau 2 slice yang gambarnya tidak baik.
Printing :
  • Pada kasus trauma CT brain image harus diprint dengan 2 window (bone dan darah). bone window untuk memperilihatkan fraktur dan daraha untuk memperlihatkan perdarahan.


Wednesday, August 5, 2020

Colon In Loop

Colon In Loop


Pengertian
Colon In Loop adalah suatu teknik pemeriksaan secara radiografi pada daerah colon dengan menggunakan media kontras positif maupun negatif secara rertrograde.

Tujuan
Untuk mendapatkan gambaran anatomis kolon dalam membantu menegakkan diagnosa penyakit/kelainan-kelainan pada kolon.

Indikasi :
  • Tumor adalah massa jaringan yang abnnormal, tumbuh ganda dan tidak terkoordinasi dan keberadaannya merupakan beban dan penyakit yang mengkhawatirkan bagi tubuh.
  • Hemoroid interna adalah iritasi atau infeksi jaringan disekitar rectum, yang disebabkan oleh pembesaran pembuluh darah atau pembengkakan jaringan.
  • Ileus adalah obstruksi usus, dapat terjadi secara mekanis atau fungisional (paralitis) yang menimbulkan mulas yang hebat dan muntah-muntah tanpa disertai rasa nyeri.
  • Colitis adalah suatu penyakit peradangan pada rectum dan colon yang terutama mengenai lapisan mukosa colon dan menyebar secara kontinyu keseluruh daerah yang terkena.
  • Divertikel adalah kantung-kantung yang menonjol pada dinding colon,terdiri atas lapisan mukosa dan muskularis mukosa.
  • Perforasi terjadinya kebocoran pada saluran gastrointestinal
  • Obstruksi tersumbatnya saluran gastrointestinal
  • Refleks fagal
Kontra indikasi :
  • Perforasi : terjadinya kebiciran pada saluran gastrointestinal
  • Obstruksi : tersumbatnya saluran gastrointestinal
  • Refleks ginjal
Anatomi
Prosedur pemeriksaan
  • Informed consent
  • Persiapan pasien :
    • 48 jam sebelum pemeriksaan pasien makan makanan lunak rendah serat
    • 18 jam sebelum pemeriksan (jam 3 sore) minum tablet dulcolax
    • 4 jam sebelum pemeriksaan (jam 5 pagi) pasien diberi dulcolax kapsul per anus selanjutnya dilavement 
    • seterusnya puasa sampai pemeriksaan dimulai
    • 30 menit sebelum pemeriksaan pasien diberi sulfas atrofin 0,25-1 mg/oral untuk mengurangi pembentukan lendir 15 menit sebelum pemeriksaan pasien diberi suntukan buscopan untuk mengurangi peristaltik usus.
  • Persiapan alat :
    • pesawat sinar-x yang dilengkapi fluoroscopy 
    • kaset dan film sesuai kebutuhan
    • marker
    • standar irigator dna irigator set lengkap dengan kanula dan rectal tube
    • handscoon
    • penjepit atau klem
    • spuit
    • kain pembersih
    • apron
    • tempat mengaduk media kontras
    • kantong barium disposible
  • Persiapan bahan :
    • media kontras, barium sulfat :
      • 12-25 % W/V (weight/volume) untuk single kontras
      • 70-80 % W/V (weight/volume) untuk double kontras
      • banyaknya sesuai panjang kolon ± 600-800 ml
    • air hangat, jangan gunakan air panas
    • vaselin/jelly
    • kocok/aduk media kontras sebelum digunakan
    • topical anesthetic/dapat digunakan lidocain untuk meminimalkan kontrasksi, glucagon/iv untuk SPASM.
Posisi pemasukan MK
SIMS Position
Instruksi pada pasien :
  • kurangi kontraksi anal
  • relax otot abdominal usahakan relax -> palpasi;
  • bernafas dengan mulut -> mengurangi spasm (kontrasksi dan kram)
  • memasukkkan kanula saat ekspirasi.
Metode Kontras Tunggal
  • pemeriksaan hanya menggunakan BaSO4 sebagai media kontras
  • kontras dimasukkan ke kolon sigmoid, desenden, transversum, ascenden sampai daerah seikum.
  • dilakukan pemotretan full filling
  • evakuasi, dibuat foto post evakuasi.
Metode Kontras Ganda
Kontras ganda satu tingkat
  • kolon diisi BaSO4 sebagian selanjutnya ditiupkan udara untuk mendorong barium melapisi kolon 
  • selanjutnya dibuat foto full filling.
Kontras ganda dua tingkat
  • Tahap pengisian
    • kolon diisi BaSO4 sampai kira-kira fleksura lienalis atau pertengahan kolon transversum
    • pasien disuruh merubah posisi agar barium masuk ke selururh kolon
  • Tahap pelapisan
    • menunggu 1-2 menit supaya barium melapisi mukosa kolon
  • Tahap pengosongan
    • pasien disurug BAB
  • Tahap pengembangan
    • dipompakan udara ke dalam kolon : 1800-2000 ml, tidak boleh berlebihan karena akan timbul komplikasi : refles fegal (wajah pucat, bradikardi, keringat dingin dan pusing)
  • Tahap pemotretan
    • pemotretan dilakukan apabila yakin seluruh kolon mengembang semua
    • posisi pemotretan tergantung dari bentuk dan kelainan serta lokasinya
    • proyeksi PA, PA oblique, dan lateral (rectum)
    • proyeksi PA, PA oblique pasien berdiri (fleksura lienalis dan hepatika)
10 posisi menurut "Miller" :
  • posisi AP untuk melihat fleksura lienalis dan hepatika 
  • posisi lateral untuk melihat rectum
  • posisi AP dengan penyudutan 15-25 derajat chepalad untuk melihat rectum
  • RPO dengan penyudutan 15-25 untuk melihat fleksura lienalis
  • right lateral untuk melihat rectum
  • prone untuk melihat fleksura lienalis dan fleksura hepatika
  • 'PA dengan penyudutan 15-25 derajat untuk melihat rectum
  • LPO dengan sudut 15-25 derajat untuk melihat fleksura hepatika
  • AP dengan oblique 2-3 derajat untuk melihat daerah ileosaekal
  • AP dengan sinar horizontal untuk melihat fleksura lienalis dan hepatika.
Proyeksi AP (Antero Posterior)
  • Posisi pasien : supine diatas meja pemeriksaan, MSP tubuh tegak lurus meja, kedua tangan disamping tubuh dan kaki lurus
  • Posisi obyek : obyek diatur diatas meja, batas atas : proc. xypoideus, batas bawah : simp. pubis
  • CP : MSP setinggi krista illiaka
  • CR : vertikal tegak lurus kaset
  • ekposi pada saat ekspirasi penuh dan tahan nafas
  • Kriteria radiograf : seluruh kolon termasuk fleksura hepatika.
Proyeksi PA (Postero Anterior)
  • Posisi pasien : tidur tengkurap diatas meja pemeriksaan dengan MSP tubuh tegak lurus meja, kedua tangan disamping tubuh dan kaki lurus
  • Posisi obyek : obyek diatus diatas meja, batas atas : proc. xypoideus, batas bawah : simp. pubis
  • CP : pada MSP setinggi kedua krista illiaka
  • CR : vertikal tegak lurus kaset
  • eksposi pada saat ekspirasi penuh dan tahan nafas
  • Kriteria radiograf : seluruh kolon, termasuk fleksura dan rectum



Proyeksi LPO
  • Posisi pasien : pasien supine kemudian dirotasikan kurang lebih 35-45 derajat terhadap meja pemeriksaan. 
      • tangan kiri digunakan untuk bantalan dan tangan kanan di depan tubuh berpegangan pada tepi meja pemeriksaan. 
      • kaki kiri lurus sedangkan kaki kanan di tekuk untuk fiksasi
  • Posisi obyek : obyek diatur diatas meja, batas atas : proc. xypoideus, batas bawah : simp. pubis 
  • CP : 1-2 inchi ke arah lateral kanan dari titik tengah kedua krista illiaka, 
  • CR : vertikal tegak lurus terhadap kaset
  • Kriteria radiogaf : daerah sigmoid, rektosigmoid, fleksura hepatika sedikit superposisi dibanding PA, colon ascenden, seikum.

Proyeksi RPO 
  • Posisi pasien : pasien supine kemudian dirotasikan kurang lebih 35-45 derajat terhadap meja pemeriksaan. 
    • tangan kanan digunakan untuk bantalan dan tangan kiri di depan tubuh berpegangan pada tepi meja pemeriksaan. 
    • kaki kiri lurus sedangkan kaki kanan di tekuk untuk fiksasi
  • Posisi obyek : obyek diatur diatas meja, batas atas : proc. xypoideus, batas bawah : simp. pubis 
  • CP : 1-2 inchi ke arah lateral kiri dari titik tengah kedua krista illiaka, 
  • CR : vertikal tegak lurus terhadap kaset
  • Kriteria radiograf : seluruh kolon, fleksura lienalis sedikit superposisi dibanding PA, colon descenden.
Proyeksi RAO 
  • Posisi pasien : tidur tengkurap diatas meja pemeriksaan, tubuh dirotasikan ke kanan 35-45 derajat terhadap meja, tangan kanan lurus disamping tubuh, tangan kiri di depan kepala dan kaki kanan lurus, kaki kiri ditekuk
  • Posisi obyek : obyek diatur diatas meja, batas atas : proc. xypoideus, batas bawah : simp. pubis
  • CP : 1-2 inchi ke kanan dari titik tengah kedua krista illiaka
  • CR : vertikal tegak lurus kaset
  • Kriteria radiograf : gambaran fleksura hepatika kanan terlihat sedikit superposisi bila dibandingkan dengan proyelsi PA dan tampak juga daerah sigmoid dan kolon ascenden.




Proyeksi LAO
  • Posisi pasien : tidur tengkurap diatas meja pemeriksaan, tubuh dirotasikan ke kirir 35-45 derajat terhadap meja, tangan kiri lurus disamping tubuh, tangan kanan didepan kepala dan kaki kiri lurus, kaki kanan ditekuk
  • Posisi obyek : obyek diatur diatas meja, batas atas : proc. xypoideus, batas bawah : simp. pubis
  • CP : 1-2 inchi ke kanan dari titik tengah kedua krista illiaka
  • CR : vertikal tegak lurus kaset
  • kriteria radiogaf : seluruh kolon, fleksura lienalis sedikit superposisi dibanding PA, colon ascenden.

Proyeksi Lateral 
  • Posisi pasien : tidur miring dengan MSP sejajar kaset, genu sedikit fleksi untuk fiksasi
  • Posisi obyek : obyek diatur diatas meja, batas atas : proc. xypoideus, batas bawah : simp pubis
  • CP : MAL setinggi SIAS
  • CR : vertikal tegak lurus kaset
  • Kriteria radiograf : daerah rectum dan sigmoid tampak jelas, rekto sigmoid pada pertengahan radiograf.
Proyeksi Left Lateral Decubitus (LLD)
  • Posisi pasien : pasien diposisikan ke arah lateral atau tidur miring ke kiri dengan bagian abdomen belakang menempel dan sejajar dengan kaset. 
      • MSP tubuh berada tepat pada garis tengah grid
  • CP : pada pertengahan kedua krista illiaka 
  • CR : horizontal tegak lurus terhadap kaset
  • eksposi dilakukan pada saat pasien ekspirasi dan tahan nafas
  • Kriteria radiograf : seluruh kolon, dengan kolik fleksura kanan berisi udara, kolon ascenden dan sekum.

Proyeksi AP aksial
  •  Posisi pasien : supine diatas meja pemeriksaan dengan MSP tepat pada garis tengah meja pemeriksaan.
      • kedua tangan lurus di samping tubuh dan kedua kaki lurus ke bawah.
      • atur pertengahan kaset dengan menentukan batas atas pada puncak ilium dna batas bawah symphisis pubis
  • CP : pada 5 cm di bawah pertengahan kedua krista illiaka 
  • CR : sudut 30-40 derajat kranial
  • Eksposi dilakukan saat pasien ekspirasi penuh dan tahan nafas
  • Kriteria radiograf : rektosigmoid di tengah film dan sedikit mengalami superposisi dibandingkan dengan proyeksi antero posterior, tampak juga kolon transversum.


Tuesday, August 4, 2020

Cerebral Angiografi

Cerebral Angiografi


Angiografi (Pencitraan pembuluh darah) merupakan sebuah prosedur yang menghasilkan citra sistem sirkulasi darah miniskus.

Indikasi Patologi :
  • arterio scheleorosis : penebalan dinding arteri sehingga elastisitasnya menurun, diakibatkan: endapan menurun, emboli, trombosis, hyperkolesterol
  • tumor
  • trauma
  • nekrosis
  • aneurisma : pelebaran pembuluh darah

Fase 1 : Persiapan pasien
  • informasi & inform consent
  • set-up tray
  • set- up injector & peralatan filming
  • monitoring pasien
  • menentukan & menyiapkan puncture side
Fase II : Peletakan Kateter
  • Radiografer membantu radiolog menempatkan kateter diikuti dengan Fluoroscopi
  • Fl dapat diulangi pada fase III
Fase III : Filming
  • Radiografer mengoperasikan injector & peralatan filming untuk menghasilkan radiograf yang diperlukan
  • Image diproses
  • Menyiapkan image untuk diperlihatkan pada radiolog
Fase IV : Penanganan Pasien
  • Membalut luka puncture
  • Pastikan bahwa pasien atau perawat mengerti tentang perawatan post prosedur
Persiapan Pasien
  • Informasi & penjelasan prosedur pmx
  • IC
  • Puasa minimal 6 jam
  • Rambut pada daerah pungsi dicukur
  • VU dikosongkan
  • KU baik
  • Tanyakan riwayat alergi
Alat dan Bahan
  1. Steril
  • Ruangan, spuit 20cc
  • Duk lobang, duk biasa, baju steril
  • Bengkok, mangkok
  • Konektor+kunci
  • Infus set
  • Spuit 5 cc
  • Albocath 
  • Kain kassa
2. Non Steril
  • Kontras media, plester, alkohol, NaCl
  • Iodium, xylocain, gunting, korentang
  • Standart infus, O2, stetoskop, tensimeter
  • Heparin, injektor, obat antihistamin
  • Kaset
  • Marker
  • Pesawat khusus
Teknik Pemeriksaan Fungsi Langsung
  • Pasien terlentang, punggung diganjal & kepala diturunkan, hingga denyut ACC teraba
  • Lakukan anestesi lokal
  • Pungsi leher pada perabaan denyut nadi arteri karotis kommunis (dibawah bifurkatio jarum abbocath no. 20/18)
  • Pungsi menembus dinding anterior & posterior pemb. darah, tarik perlahan-lahan sampai darah memancur lancar
  • Sheat didorong ke lumen arteri & mandrin tarik keluar
  • Sambung sheath dengan luerlock
  • Kontras +/-8-10 cc, injeksi cepat
  • Sinar-x arah glabella sudut 27-30 derajat dengan vertikal, kranio-kaudal
Fase-fase Pemeriksaan
  • Fase arteri : 1-3 detik, setelah suntikan
  • Fase kapiler : 3-4 detik
  • Fase vena : 4-12 detik
Teknik Pemeriksaan Tidak Langsung
  • Pungsi pada A.Femoralis (inguinal) dengan jarum abbocath 16/18 setelah anestesi lokal dan insisi.
  • Masukkan guide wire ke lumen arteri Femoralis kearah proksimal, lalu tarik abbocath ditarik keluar
  • Masukkan kateter melalui "guide wire", lalu tarik "guide wire" keluar, sambung pangkal kateter dengan luer lock
  • Dorong kateter mencapai ACC/ACI/ACE
  • Suntik kontras +/-8-10 cc dengan injeksi cepat
Proyeksi
Proyeksi Axial Ap/Towne
  • PP : tidur terlentang
  • PO : kepala true Ap, pertengahan film 2 cm dibawah MAE
  • CR : 30 derajat caudal
  • CP : 8 cm diatas glabella menuju pertengahan film
Proyeksi Lateral
  • PP : tidur terlentang
  • PO : kepala true lateral Ap, MSP sejajar kaset dan IOML tegak lurus kaset
  • CP : 2 cm didepan MAE dan 2 cm superior ourika 
  • CR : horizontal

Proyeksi Supraorbital Oblique
  • PP : tidur terlentang
  • PO : dari posisi AP kepala dimiringkan sebesar 30-40 derajat menjauhi sisi yang disuntik, pertegahan film 2 cm diatas MAE
  • CR : 10 derajat caudal
  • CP : diatas supra margin menuju petrous ridge
Proyeksi AP Supraorbital
  • PP : tidur terlentang
  • PO : kepala true AP, pertengahan film 2 cm diatas MAE 
  • CR : 10-20 derajat caudal
  • CP : diatas supraorbita margin menuju petrous ridge
Proyeksi Transorbital AP
  • PP : tidur terlentang
  • PO : true AP, pertengahan film 4 cm diatas MAE
  • CR : 20 derajat cephalad
  • CP : pada pertengahan mata, melalui titik 2 cm diatas MAE

Tuesday, July 28, 2020

Appendicografi

Appendicografi


Appendicografi adalah suatu pemeriksaan radiografi pada bagian apendiks dengan menggunakan sinar-x dan bantuan media kontras positif untuk menegakkan diagnosa. 
Gejala-gejala :
  • Rasa sakit di daerah epigastrum,darah periumbilicus, diseluruh abdomen atau di kuadran kanan bawah. Ini merupakan gejala-gejala pertama. Rasa sakit ini samar-samar, ringan samoai miderat, dan kadang-kadang beruapa kejang. sesudah 4 jam biasanya rasa nyeri itu sedikit demi sedikit menghilang kemudian beralih ke kuadran bawah kanan dan disini rasa nyeri ini menetap dna secara progesif bertambah hebat, dan semakin hebat apabila pasien bergerak.
  • Anoreksia, mual dan muntah yang timbul selama beberapa jam sesudahnya merupakan kelanjutan dari rasa sakit yang timbul permulaan.
  • Gejala-gejala lain adalah demam tidak tinggi dan konstipasi.
  • Bayi yang mengalami aapendisitis gelisah, mengantuk dan anoreksia.
  • Mereka yang sudah lanjut usia gejala-gejalanya tidak senyata mereka yang lebih muda
Tanda-tanda :
  • Nyeri tekan di daerah kuadran kanan bawah. Nyeri tekan mungkin ditemukan juga di daerah panggul sebelah kanan kalau appendiks terletak retrorektal. rasa nyeri pada pemeriksaan rectum dan vagina ditemukan di daerah rektum apabila terjadi apendisitis pelvis. Kalau letak apendiks itu lain dari yang lain, maka rasa nyeri mungkin terletak di tempat lain.
  • Demam (kurang dari 38°C), kekakuan otot, nyeri tekan dan nyeri lepas, nyeri alih, dan tanda-tanda psoas serta obturator positif.
  • Bayi mungkin membutuhkan sedasi. terdapat nyeri lokal. Pada mereka yang sudah lanjut usia. rasa nyeri mungkin tidak nyata, dan lebih dapat menimbulkan salah duga yang menyesatkan. Pada wanita hamil rasa nyeri terasa lebih tinggi di daerah abdomen dibandingkan dengan biasanya.
Indikasi :
  • Appendisitis akut
  • Appendisitis kronis
  • Benda asing
  • Hiperplasi folikel (Pembesaran jaringan limfoid yang dapat mengakibatkan terjadinya radang appendiks)
  • Tumor
Persiapan Alat dan Bahan :
  • Pesawat sinar-X + Fluoroscopy
  • Meja pemeriksaan denga grid
  • Kaset dan film 30x40 cm
  • Gelas dan tempat mengaduk media kontras
  • Marker
  • Gonad Shield
  • Spuit
  • Sarung tangan
  • Kateter
  • Apron
  • Barium sulfat dan air perbandingan 1:4 sampai 1:8
Persiapan pasien - per anal :
  • Tanyakan riwayat alergi terhadap iodium maupun barium.
  • Tanyakan apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan saat ini.
  • Apabila pasien wanita dalam usia produktif, tanyakan apakah pasien sedang hamil atau tidak ? (48 jam sebelum pemeriksaan, pasien dianjurkan makan makanan lunak tidak berserat misalkan bubur kecap)
  • 12 jam atau 24 jam sebelum pemerisaan, pasien diberikan 2/3 dulkolac untuk diminum.
  • Pagi hari pasien diberi dulcolak supositoria melalui anus atau dilavement.
  • Jangan lupa pasien disarankan agar banyak minum untuk memaksimalkan pembersihan kolon. (4 jam sebelum pemeriksaan pasien harus puasa hingga pemeriksaan berlangsung)
  • Pasien dianjurkan tidak banyak bicara dan tidak merokok untuk mengurangi udara di dalam usus.
  • Penandatanganan informed consent.
Persiapan pasien - per oral :
  • Persiapan pasien :
  • Sehari sebelum pemeriksaan pasien boleh makan seperti biasa.
  • Pukul 21.00 pasien minum BaSO4 yang telah dilarutkan dengan 1/2 gelas air putih (± 100 cc).
  • Pukul 09.00 (setelah 24 jam) pasien datang ke Klinik Radiologi untuk dilakukan pemeriksaan.
  • Diusahakan pasien tidak buang air besar pada pagi hari sampai pemeriksaan dilaksanakan.
  • Sebelum dilaksanakan pemeriksaan, pasien terlebih dahulu mengganti pakaian dan dianjurkan unt melepas perhiasan atau benda-benda yang mengandung logam disekitar abdomen.
  • Persiapan Alat/Bahan :
  • BaSO4 yang telah diserahkan kepada pasien sehari sebelum pemeriksaan.
Proyeksi Pemeriksaan :
Proyeksi AP/PA
  • Posisi Pasien : Supine atau prone
  • Posisi obyek :  
        • Atur MSP pada pertengahan meja pemeriksaan
        • Atur pertengahan kaset pada pertengahan MSP setinggi krista illiaca
        • Atur pelvis agar tidak terjadi rotasi.
  • Central Ray : Vertikal/tegak lurus terhadap kaset
  • Central Point : Pertengahan MSP setinggi krista illiaca
  • FFD : 100 cm
  • Struktur yang ditampakkan : menunjukkan seluruh kolon dengan pasien supine atau prone
  • Kriteria Evaluasi :
    • Seluruh kolon mencakup fleksura splenik dan rectum
    • Columna Vertebrae berada pada pertengahan sehingga gambaran mencakup kolon ascenden dan kolon descenden.
Proyeksi AP Oblique (RPO dan LPO)
  • Posisi Pasien : Semi supine
  • Posisi Obyek :
    • Miringkan pasien sehingga membentuk sudut 350- 450 terhadap meja pemeriksaan.
    • Atur pertengahan tubuh pasien pada pertengahan meja pemeriksaan.
    • Jika posisi RPO, silangkan tangan kiri ke kanan dan tangan kanan terlentang di samping tubuh dan jika posisi LPO, silangkan tangan kanan ke kiri dan tangan kiri terlentang di samping tubuh.
    • Berikan alat fiksasi untuk memaksilmalkan posisi pasien.
  • Central Ray : Vertikal/tegak lurus terhadap kaset
  • Central Point : Kira-kira 1-2 inchi dari lateral menuju medial setinggi krista illiaca
  • Struktur yang ditampakkan : 
    • Gambaran pengisian dari umbai cacing/appendiks secara penuh (full filling), partial filling atau non filling.

Saturday, July 25, 2020

Oesophagus Maag Duodenum (OMD)

Oesophagus Maag Duodenum (OMD)

 

Adalah pemeriksaan secara radiografi dengan menggunakan media kontras (positif dan negatif) untuk menampakkan kelainan pada lambung.

Indikasi pemeriksaan :

-          Divertikula : Penonjolan keluar dari maag yang membentuk kantung (banyak terjadi pada fundus)

-          Gastritis : radang pada dinding lambung (akut/kronik)

-          Hematemesis : perdarahan

-          Neoplasma : tumor/kanker

-          Hernia hiatal : sebagian lambung tertarik keatas diafragma karena esophagus yang pendek/melemahnya otot diafragma

-          Stenosis pylorus : penutupan atau penyempitan dari lumen pylorus

-          Ulcer/ulcus/tukak : erosi/luka terbuka pada permukaan selaput lender lambung (rokok, bakteri, dll)

Kontra Indikasi :

-          Persangkaan perforasi tidak boleh menggunakan BaSO4

-          Obstruksi usus besar

 

Anatomi

 

Stomach (Maag=Gaster=Lambung)


Terdiri dari 4 bagian besar yaitu : cardiac, fundus, body atau corpus dan pylorus.



Persiapan alat dan bahan :

tingkat emosi

 bilanglah astagfirullah tiap levelnya. ini tingkatan rasa emosi : 1. apatis 2. sedih 3. takut 4. rakus 5. marah 6. sombong 7. semangat 8. m...